Hampir setiap aktivitas di bidang kita selalu berkaitan dengan perubahan regulasi, persepsi, kerangka normatif, pendekatan perusahaan, dan evolusi sistem manajemen. Ada banyak alasan untuk hal ini: cara lama tidak lagi efektif, membosankan atau sekadar rutinitas, tidak memberikan dampak nyata, perubahan kondisi dan fakta eksternal, dan daftar alasan perubahan ini bisa berlanjut tanpa akhir. Dalam artikel ini, mari kita tidak membahas semua konsep institusional tentang perubahan, melainkan fokus pada satu area spesifik — mengapa para manajer yang terkait dengan produksi tidak mau mengubah pendekatan mereka di bidang keselamatan secepat yang kita inginkan. Dalam konteks ini, kita tidak berbicara tentang persyaratan hukum yang diatur dalam undang-undang, kode ketenagakerjaan, atau peraturan pemerintah, melainkan tentang persyaratan perusahaan yang jauh lebih luas.
Kisah "saya yang menyuruh, kalian yang melakukan karena sudah tertulis di perintah" sudah lama kehilangan relevansinya jika kita berbicara tentang sesuatu yang lebih konseptual atau intelektual, terutama di mana terdapat celah atau yang kita sebut "zona abu-abu moral". Misalnya, Observasi Keselamatan Perilaku atau patroli kepemimpinan dapat dilakukan dengan cara yang sangat berbeda, tetapi dalam laporan semuanya akan terlihat hampir sama. Kita semua ingin agar para manajer benar-benar memercayai kita serta menerapkan praktik yang diusulkan dengan inisiatif dan antusiasme.
Namun, mengapa hal ini sering kali tidak terjadi, atau jika terjadi, hanya sekadar formalitas?
Saya akan membagi kesulitan implementasi ini ke dalam tiga esensi:
1. Kekurangan kita:
2. Keunikan persepsi (psikologi):
3. Biologi:
Mari kita bahas lebih detail tentang deskripsi fenomena ini:
Biologi.
Ada hal-hal yang berada di luar kendali kita, misalnya: manusia adalah makhluk dengan hierarki yang relatif lemah dibandingkan dengan banyak hewan sosial lainnya, terutama dari sudut pandang biologi dan psikologi evolusioner.
Bagaimana hal ini terjadi di dunia hewan:
Serigala, singa, monyet (terutama babun dan simpanse) hidup dalam hierarki yang terstruktur secara kaku, di mana dominasi, ketundukan, dan status diatur melalui agresi, ritual, genetika, atau kekuatan fisik. Pada banyak spesies, status menentukan akses ke makanan, pasangan, dan tempat yang aman — dan ini sangat penting untuk kelangsungan hidup. Hierarki mereka stabil, naluriah, dan hampir tidak dapat dibantah tanpa adanya konflik serius.
Bagaimana hal ini terjadi pada manusia:
Kita mampu bekerja sama di luar hierarki. Kelompok manusia dapat berkolaborasi secara efektif berdasarkan kepercayaan, timbal balik, norma, dan kesepakatan, bukan hanya melalui ketundukan pada "pemimpin".
Hierarki pada manusia bersifat budaya, bukan biologis. Berbeda dengan serigala atau lebah, kita tidak memiliki "naluri ketundukan" bawaan. Hierarki diciptakan secara sosial: melalui hukum, tradisi, ekonomi, agama, dan teknologi. Hierarki ini berubah seiring waktu dan sangat bervariasi antar budaya (misalnya, pemburu-pengumpul yang egaliter vs. birokrasi kekaisaran).
Manusia cenderung melawan otoritas. Eksperimen (seperti Milgram, Zimbardo) menunjukkan bahwa, meskipun manusia dapat patuh, mereka sering kali mengalami konflik batin. Sejarah penuh dengan contoh pemberontakan, revolusi, dan gerakan demokratis — sesuatu yang langka di dunia hewan.
Kita menciptakan struktur "horizontal". Persahabatan, kemitraan, koperasi, komunitas open-source — semua ini adalah bentuk interaksi tanpa peringkat yang tidak mungkin terjadi pada sebagian besar hewan.
Keunggulan evolusioner — fleksibilitas. Kemampuan untuk beralih dengan cepat antara hierarki dan kesetaraan, ketundukan dan kepemimpinan membuat manusia lebih adaptif dalam kondisi yang berubah-ubah.
Menariknya, ini hanyalah fakta yang kita pertimbangkan, tetapi tidak kita kendalikan.
Apa yang bisa kita kendalikan adalah bias kognitif, meskipun ini juga tidak mudah. Saat ini terdapat 157 bias kognitif. Cara menanganinya telah kita bahas di artikel sebelumnya.