Pernahkah Anda menjumpai laporan yang "dipoles" dan laporan K3 yang mengilap? Terkadang laporan tersebut begitu memikat sehingga menyerupai dongeng karya A. S. Pushkin. Mengapa genre ini tetap populer di lingkungan profesional kita? 🤔
Jawabannya sederhana: jika dongeng seperti itu ditulis, berarti ada yang membutuhkannya. Ada anggapan umum bahwa CEO atau dewan direksi percaya pada efektivitas sistem HSE hanya karena kurangnya data tentang situasi nyata. Namun, ini adalah sebuah kekeliruan.
Jangan meremehkan ketajaman manajemen puncak. Para pemimpin senior memiliki banyak saluran komunikasi, dan mereka selalu mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Ini berarti penyakit "laporan yang dipoles" lahir di tingkat paling atas — di mana laporan tersebut "dipesan" oleh pembawa budaya perusahaan — dan baru kemudian menulari departemen lainnya. 😷
Kabar baiknya adalah solusi untuk masalah ini juga berada di tingkat yang sama.
Namun, di sini muncul dua pertanyaan sensitif:
📍Apakah Anda, sebagai profesional HSE, siap untuk mengambil inisiatif dan mendiskusikan masalah ini secara jujur dengan CEO?
📍Apakah Anda memiliki cukup keberanian untuk mempertaruhkan karier Anda demi nyawa dan kesehatan orang-orang serta kesejahteraan perusahaan yang harus Anda lindungi?
Siapa yang bilang bekerja di bidang HSE itu mudah?
Tidak ada "pil ajaib" di sini. Bahkan AI tercanggih pun tidak akan bisa membantu. 🤖
Ngomong-ngomong, AI hanyalah alat lain dalam gudang senjata HSE yang luas. Namun, apakah keberadaan palu atau obeng di dalam kotak perkakas menjamin alat tersebut digunakan dengan benar? Kita tentu ingat kecelakaan besar dalam 10 – 15 tahun terakhir yang terjadi meskipun sudah ada sistem perlindungan otomatis yang paling canggih. Begitu pula dengan AI, cepat atau lambat orang akan paham cara menyiasatinya dan membuatnya bekerja dengan "benar". Jadi, jangan hanya mengandalkan teknologi.
Keselamatan kerja adalah sesuatu yang diciptakan dan dihancurkan oleh manusia. Ini adalah masalah moral dan pilihan pribadi. Tidak ada alat HSE (AI, KPI, instruksi dan aturan, kunjungan direktur, dll.) yang mampu memperbaiki budaya keselamatan. Satu-satunya hal yang berhasil adalah "pendekatan kepemilikan" dari CEO, teladan pribadi, dan ketegasannya. Jika orang-orang merasa bahwa bos mereka peduli, maka tidak ada yang perlu "dipoles".
Secara pribadi, saya beruntung bisa bertemu dengan pemimpin seperti itu, bekerja dengan mereka, dan belajar dari mereka. Bagaimana dengan Anda?
P. S. Ini semua salah James Reason dan "Taksonomi Kesalahan Manusia" miliknya. 😉
💬 Apakah Anda mengenali karakter dalam gambar tersebut? Apakah dia mengingatkan Anda pada seseorang?
Rekan-rekan, silakan bagikan pendapat Anda di kolom komentar! 👇
Komentar 3
Думаю, Вы абсолютно правы. Рад, что статья натолкнула вас на такие точные мысли.
То, о чём я не сказал в основном тексте блога, но может быть полезным.
Главный секрет успеха — говорить на языке топ-менеджмента: на языке цифр, законов и непрерывности бизнес-процессов:
1. Финансовые аргументы (Язык денег)
2. Юридическая безопасность (Язык законов)
3. Операционная эффективность (Язык процессов)
Как выстроить сам разговор?